span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Irman Faiz: Konsisten Meraih Mimpi
Oleh : Ardito Ramadhan
04 Mei 2018

Highlight

Ekonomi hidup di setiap elemen masyarakat sehingga banyak sekali yang dapat diamati dan dipelajari.

irman faiz
Irman Faiz adalah pemenang Mahasiswa Berprestasi Nasional pada 2016 yang kini tengah berkarir di Bank Indonesia.
Sumber: ask.fm

Seperti anak muda lainnya, ia mempunyai cita-cita tinggi, yaitu menjadi ekonom. Demi cita-cita itu, ia merantau ke pulau seberang demi mengenyam pendidikan di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Masa kuliahnya pun tak dihabiskan sia-sia, berbagai prestasi diraihnya hingga dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Nasional pada 2016. Simak kisah inspiratif Irman Faiz bersama Kinibisa!



"Saya di Pekanbaru juga aktif ikut berbagai macam kompetisi dari SD. Saya aktif di kompetisi akademis dan kesenian."

Sudah Berprestasi Sejak Kecil
 

Irman Faiz lahir di Pekanbaru, Riau, pada 29 April 1995. Sulung dari tiga bersaudara ini agaknya lahir dan besar dalam keluarga yang cukup sederhana. Ayahnya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil sementara sang ibu merupakan seorang ibu rumah tangga. Masa kecil dan remaja Irman pun banyak dihabiskan di ibukota provinsi Riau itu.

Jiwa kompetitif agaknya telah muncul dalam diri Irman sejak ia duduk di bangku SD. “Saya di Pekanbaru juga aktif ikut berbagai macam kompetisi dari SD. Saya aktif di kompetisi akademis dan kesenian,” kata Irman. Ia mengaku dirinya rajin mengikuti berbagai lomba di dunia seni hingga SMA seperti lomba puisi, menyanyi, teater, dan melukis.

Di samping itu, Irman juga menjadi langganan sekolahnya untuk mengikuti olimpiade sains di tingkat SD, SMP, maupun SMA. “Saat SD saya biasa mewakili sekolah di berbagai mata pelajaran, untuk SMP saya lebih ke biologi dan SMA di mata pelajaran ekonomi,” katanya. Puncaknya, Irman meraih medali perak pada Olimpiade Sains Nasional untuk Bidang Studi Ekonomi pada 2011.

duduk di bangku SD sudah kompetitif
Irman telah memiliki jiwa kompetitif sejak duduk di bangku SD.
Sumber: edupost.id

Ketika duduk di bangku SMA, Irman memang telah menggilai mata pelajaran ekonomi. Hal itulah yang membuat Irman ingin masuk ke jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial. Namun, orangtua Irman rupanya tidak setuju atas keinginan anaknya itu. Hingga kini, murid-murid jurusan IPS di bangku SMA memang kerap dipandang sebelah mata.

Berbagai usaha pun ditempuh Irman untuk meyakinkan orangtuanya. “Saya tetap berpegang teguh kepada keinginan saya dan saya minta kepada wali kelas waktu itu untuk mendukung saya untuk masuk IPS,” katanya. Perjuangan Irman pun menuai hasil, sang ayah mengizinkannya masuk jurusan IPS meski memendam rasa kecewa atas pilihan anaknya itu.

Izin yang diberikan sang ayah rupanya bukan tanpa syarat. Irman yang gemar berorganisasi diminta untuk keluar dari OSIS agar dapat fokus belajar. “Untuk tidak memperkeruh suasana lagi, saya memutuskan keluar dari OSIS. Pada saat itu, saya merasa sangat sedih dan berat meninggalkan teman-teman di OSIS,” katanya.

Irman punya cara tersendiri membuktikan pada orangtuanya bahwa keputusannya masuk IPS adalah keputusan yang tepat. “Target saya adalah mendapatkan medali di OSN Ekonomi untuk membuktikan kepada orang tua saya bahwa alasan mereka melarang saya untuk mengambil IPS adalah salah,” kata Irman.

Bersama dua orang temannya, Irman pun memulai perjuangannya untuk merebut medali OSN. Mereka membuat kelompok belajar yang mendalami bidang studi ekonomi tiap pulang sekolah dan akhir pekan. Mendekati tanggal penyelenggaraan OSN, Irman dan kawan-kawan mengikuti lomba-lomba kecil yang digelar perguruan tinggi di Riau sebagai sarana latihan.

Perjuangan Irman dan kawan-kawan membuahkan prestasi. Mereka berhasil membawa pulang satu medali perak atas nama Irman. Lewat prestasi ini, Irman sukses membuktikan bahwa dirinya memang mempunyai bakat di bidang studi ekonomi. Sejak saat itu, kedua orangtua Irman pun selalu mendukung segala pilihan dan keputusan Irman.

Merantau Demi Menjadi Ekonom
 

memiliki cita cita sebagai ekonom
Iman mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI demi mewujudkan mimpinya menjadi ekonom.
Sumber: cdninstagram.com

Kesukaan Irman kepada mata pelajaran ekonomi membuatnya bercita-cita menjadi ekonom. Menurutnya, profesi ekonom adalah profesi yang berdampak bagi masyarakat banyak. “Ekonomi hidup di setiap elemen masyarakat sehingga banyak sekali yang dapat diamati dan dipelajari,” katanya. Demi mewujudkan cita-citanya itu, Irman pun pergi merantau ke Depok, Jawa Barat, untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Ketika memulai masa kuliahnya, Irman mengaku sempat merasa minder dengan mahasiswa lainnya, khususnya yang berasal dari kota-kota besar. Saat itu, ia merasa inferior karena belum bisa menguasai Bahasa Inggris. “Pada saat awal masuk, bahasa inggris saya jauh dari proper sedangkan anak-anak jakarta sudah sangat fluent,” katanya.

Selain itu, ia juga kagum dengan wawasan dan pengetahuan yang dimiliki oleh rekan-rekannya yang berasal dari kota-kota besar. Menurutnya, hal itu disebabkan minimnya akses terhadap buku impor selama ia tinggal di Pekanbaru. “Toko buku di Pekanbaru tidak ada Kinokuniya dan Periplus, hanya ada Gramedia sehingga akses ke buku impor kecil,” kata Irman.

Dengan segala ketertinggalan itu, Irman pun semakin termotivasi untuk belajar lebih giat. “Saya selalu mencoba fokus di kelas sehingga paling tidak di kelas udah ngerti jadi nanti ketika mau ujian tinggal ulang,” katanya. Kegiatan akademis Irman juga diimbangi dengan mengikuti beberapa organisasi di kampusnya. “Saya mengatur bagaimana saya aktif di organisasi agar mendapatkan banyak teman karena saya suka bersosialisasi tetapi juga nilai bagus,” katanya.

Di balik itu semua, Irman rupanya telah memendam tekad untuk menjadi Mahasiswa Berprestasi. Seperti saat memenangkan OSN di bangku SMA, Irman ingin menjadi Mapres untuk membanggakan kedua orangtuanya. “Saya terinspirasi untuk mendapatkan gelar itu karena membayangkan betapa bangganya ortu jika anaknya dapat gelar itu,” kata Irman.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di UI, Irman memang telah bertekad untuk rajin mengikuti kegiatan-kegiatan akademis seperti kompetisi Mapres. Ia mengaku memang mempunyai karakter yang aktif. “Kalau saya pasif, saya merasa tidak nyaman. Ketika pace hidup saya menjadi sangat lambat rasanya ada yang kurang,” katanya.

Juara Mapres Nasional
 

Menang mapres feb ui
Irman Faiz memenangkan pemilihan MAPRES FEB UI 2016.
Sumber: uiupdate.ui.ac.id

Perjuangan Irman untuk menjadi Mapres Nasional dimulai pada tingkat terkecil, yaitu pemilihan Mapres FEB UI 2016. Saat itu, Irman hanya menargetkan posisi tiga besar  “Masuk tiga besar saja akan sudah sangat membahagiakan orangtua saya,” katanya. Di luar dugaan, ia menempati peringkat pertama dan berhak mewakili fakultasnya untuk berlaga di tingkat universitas.

Aktif mengikuti berbagai lomba karya ilmiah dan akademis lainnya rupanya menjadi salah satu kunci kemenangan Irman. “Setiap lomba yang saya ikuti memberikan pelajaran masing-masing meskipun saya kalah di banyak kompetisi.” Kata Irman. Menulis karya ilmiah juga menjadi salah satu faktor penilaian pada ajang tersebut.

Beranjak ke tingkat universitas, Irman semakin aktif mengikuti berbagai kegiatan akademis untuk memperkaya CV-nya. Setelah mengikuti proses pemilihan Mapres UI, Irman pun sukses memenangkan gelar tersebut dan terpilih mewakili kampunsnya di ajang Mapres Nasional.

Ketika mengikuti ajang Mapres Nasional, perasaan inferior muncul dalam diri Irman. Sebab, ia menilai kompetitornya jauh lebih kompetitif dan berkompeten. “Harus melawan rasa inferiority dan kecemasan, kalau tidak menang bagaimana dan lain-lain. Pikiran seperti itu harus dihilangkan, yang penting do my best saja” katanya.

Setelah melalui rangkaian latihan dan persiapan, Irman sukses terpilih menjadi Mapres Nasional. Menurut Irman, kemenangan ini menjadi tanggung jawab besar baginya. “Banyak khalayak terutama siswa-siswa SMA yang menjadikan orang yang mendapatkan titel ini sebagai role model, sehingga memberikan responsibility tersendiri bagi pemegang titelnya,” kata Irman.

Bagi Irman, ajang Mapres Nasional memang bukan sebatas kompetisi. Menurutnya, ajang ini bisa menjadi sarana untuk membangun networking dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya. “Titel ini membuka eksposur saya ke banyak pihak mulai dari diundang universitas lain maupun institusi lainnya,” katanya.

Lewat ajang ini, Irman juga merasa optimis dengan masa depan Indonesia. Sebab, ia dapat bertemu dengan orang-orang cerdas dari seluruh penjuru Indonesia. “Ternyata Indonesia punya banyak anak muda yang sangat luar biasa. Sehingga kita harus optimis untuk terus berkontribusi bagi bangsa jangan berhenti karena potensi itu ada,” kata Irman.

Ketika ditanya mengani tips memenangkan Mapres Nasional, Imran menyebut para mahasiswa mesti aktif mengikuti banyak kegiatan akademis. “Karena penilaian Mapres Nasional besar di CV, aktivitas kampus matters a lot,” katanya. Ia menambahkan kemampuan berbahasa Inggris dan pengetahuan mengenai wawasan kebangsaan juga menjadi poin penting lainnya.

mapres nasional
Irman Faiz ketika menjuarai ajang pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional Tahun 2016.
Sumber: feb.ui.ac.id

Dengan segudang pengalaman mengikuti kompetisi-kompetisi akademis, tentu Irman pernah merasakan apa yang disebut kegagalan. Ia pun punya resep khusus untuk bangkit dari kegagalan. ”Ketika saya gagal saya selalu merasa sedih, saya bercerita kepada orang tua saya dan teman-teman terdekat. Merekalah yang selalu memberikan motivasi bagi saya untuk kembali bangkit,” katanya kepada Edupost[1]

Ia pun tak mau terlalu lama tenggelam dalam kesedihan apabila merasakan kegagalan. “Setiap kali gagal saya merasa saya harus cepat move on karena waktu terus berjalan dan banyak kesempatan yang akan terlewat jika kita terlarut dalam kesedihan,” katanya menambahkan.

Pesan Irman untuk Anak-anak Muda
 

berbagi pengalaman
Irman membagikan pengalamannya dalam suatu acara.
Sumber: katadata.co.id

Setelah lulus dari UI, Irman pun meneruskan perjuangannya untuk menjadi ekonom. Sempat bekerja di Citibank selama empat bulan, kini Irman bekerja di salah satu instansi papan atas Indonesia, Bank Indonesia. Dengan bekerja di Bank Indonesia, Irman pun semakin dekat dengan mimpinya sebagai ekonom.

Irman mengakui titelnya sebagai Mapres Nasional menjadi salah satu faktor yang memudahkannya mencari pekerjaan. “Gelar ini membantu untuk memperlancar pekerjaan yang kita mau ketika pekerjaan tersebut related dengan prestasi yang kita raih,” katanya. Irman juga mengatakan sifat kerja keras, mau belajar, dan konsistensi, yang terbentuk saat mengikuti Mapres Nasional sangat membantunya dalam dunia kerja.

baca juga: kisah inspiratif Tasya Kamila

Sebagai seseorang yang bekerja di instansi ekonomi, Irman mempunyai pesan bagi anak-anak muda. Menurutnya, anak muda harus punya visi jangka panjang dalam hidupnya. “Anak muda harus memikirkan faktor jangka panjang dalam hidup karena pada saatnya anak muda yang sekarang ini akan menjadi tua. Untuk itu selain menjadi produktif, anak muda juga harus melek akan manajemen keuangan mereka,” kata Irman.

Di samping itu, ia juga mendorong anak-anak muda untuk aktif mengikuti kompetisi-kompetisi akademis. Menurutnya, kompetisi itu bisa menjadi investasi bagi masa depan mereka. “Kompetisi itu adalah investasi yg tidak pernah merugikan secara ekonomi, karena bila secara accounting loss, tetapi secara economics pasti akan selalu gain,” katanya dikutip dari situs resmi FEB UI[2].

Lewat kisah Irman di atas, kita bisa belajar bahwa kerja keras akan selalu membuahkan hasil manis. Mengikuti berbagai kompetisi sejak dini, ia menuai buahnya ketika sukses memenangkan gelar Mahasiswa Berprestasi Nasional. Ayo, siapkah kamu untuk menjadi Mapres selanjutnya? Simak kisah inspiratif tokoh-tokoh lainnya bersama Kinibisa!


[1]http://edupost.id/prestasi-pemuda/irman-faiz-mapres-nasional-yang-ingin-jadi-ekonom-handal/
[2]http://www.feb.ui.ac.id/irman-faiz-terpilih-sebagai-mahasiswa-berprestasi-ui-2016/