span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Vivi Leonita: Berprestasi Sejak Sekolah Meskipun Menghadapi Banyak Tantangan
Oleh : Halimah Nusyirwan
02 Mei 2019

Highlight

Bisnis itu nggak pernah ada ujungnya. Jadi kalau misalnya kita berhenti, bisnis itu juga bisa berhenti. Kalau misalnya bisnis lagi turun, ya kita nggak boleh nyerah. Karena kita akan kalah kalau kita menyerah.

Sosok Vivi Leonita, pengusaha muda dan juga mahasiswa berprestasi.
Sosok Vivi Leonita, pengusaha muda dan juga mahasiswa berprestasi.
Sumber: instagram.com

Pintar dan pekerja keras. Kata-kata tersebut cocok menggambarkan sosok Vivi Leonita yang tidak hanya menjadi mahasiswa berprestasi ketika kuliah dulu, tapi juga menjadi penyemangat dan tulang punggung keluarganya.



"Untuk kita yang beruntung bisa merasakan kuliah di perguruan tinggi, jangan malas-malasan. Hargai kesempatan itu karena banyak banget di luar sana yang pengen punya kesempatan itu tapi nggak bisa."

Masa Sekolah yang Penuh Prestasi
 

Vivi lulus dengan nilai sempurna
Vivi lulus dengan nilai sempurna
Sumber: instagram.com

Ketika masih duduk di bangku sekolah dulu, Vivi merupakan sosok murid yang dikenal dengan imej kutu buku dan rajin belajar di kalangan teman-temannya. Hal ini membuatnya memiliki prestasi gemilang semasa sekolahnya dulu.

“Kalau menurut temen-temen aku sih ya, aku itu termasuk kutu buku. Jadi dari SMP ke SMK itu, kalau aku nggak salah inget aku itu sering ranking 1. Kecuali SMP kelas 1. SMP kelas 1 aku belum ranking tapi pas SMP kelas 2 aku selalu ranking 1,” ungkap Vivi.

Vivi juga memiliki ketertarikan khusus pada pelajaran matematika atau yang berhubungan dengan angka. Hal ini terlihat sejak ia masih duduk di bangku SMP dan akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMK dengan jurusan Akuntansi.

Prestasi yang didapatkan semasa sekolah membuat gurunya mempercayai Vivi untuk menjadi perwakilan sekolah dalam lomba akuntansi yang diadakan oleh Universitas Bunda Mulia (UBM) kala itu. Meskipun Vivi mengaku bahwa ia tidak mengerti akan metode yang dipakai dalam lomba tersebut, namun ia tetap berusaha untuk belajar dan memberikan usaha terbaiknya.

“Jadi Universitas Bunda Mulia itu ngadain lomba akuntansi gitu pake software ACCURATE. Waktu itu ACCURATE aku bener-bener belum tahu tapi entah kenapa tiba-tiba disuruh guru untuk ikut lomba. Akhirnya saya ikut lomba dan sempet belajar segala macem,” ujarnya.

Kerja keras dan usaha yang ia berikan rupanya berbuah kesuksesan. Vivi berhasil memenangkan lomba tersebut dan menjadi juara 1. Dari situlah Vivi akhirnya mendapatkan beasiswa sebesar 75% untuk berkuliah di UBM dengan jurusan Akuntansi.

baca juga: kisah inspiratif Najelaa Shihab

Menjadi murid di SMK bukan berarti Vivi tidak memiliki keinginan untuk lanjut kuliah. Ia mengatakan bahwa kondisi keluarganya saat itu tidak menentu sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMK dengan maksud agar dapat langsung mencari kerja jika ia tidak dapat berkuliah. Akhirnya dengan kemenangan di lomba tersebut, Vivi dapat melanjutkan mimpinya untuk melanjutkan ke jenjang S1.

Berdagang di Usia Muda hingga Membangun Vileo Handicraft
 

Vivi dengan brand bisnisnya
Brand bisnis Vivi bernama Villeo Handicraft
Sumber: dok.Kinibisa

Bagi Vivi, menjadi pengusaha mungkin bukanlah hal yang direncanakan. Kala sekolah dulu, ia mendapat tugas dari sekolahnya untuk membuat prakarya. Berkat ibunya yang memiliki bakat dalam hal tersebut, Vivi akhirnya belajar dari sang mama dan hasil karyanya berhasil menarik perhatian teman-teman dan guru-gurunya di sekolah yang akhirnya menjadi awal mula ia mulai berdagang.

“Dulu tuh pas awal jualan ini, aku belum jualan lewat media online jadi aku jualan dari mulut ke mulut gitu. Kebetulan mama bisa bikin kayak gitu (kerajinan) dan waktu itu ada tugas dari sekolah bikin kerajinan tangan apa aja terserah. Karena mama saya bisa makanya saya, ‘Mah coba dong ajarin aku’, akhirnya aku bikin terus pas di sekolah guru nggak percaya kalo itu bikinan aku dan dikirainnya beli. Temen-temen bilang, ‘Ih bagus ya kenapa nggak lu jualin aja?’ Udah deh sejak itu aku mulai terima pesanan kayak gantungan kunci mote-mote gitu,” kata Vivi.

Saat itu Vivi masih belum mengenal yang namanya jualan online dan bergantung pada handphone Nokianya yang hanya bisa mengakses Facebook. Vivi yang dulunya berjualan manik-manik dengan metode dari mulut ke mulut akhirnya mulai merambah ke Facebook yang akhirnya hasil jualannya tersebut ia gunakan untuk membeli handphone Android. Semenjak itu Vivi mulai melebarkan sayap bisnisnya ke Instagram dan membangun bisnisnya yang dinamai Vileo Handicraft.

“Saat itu masih jualan manik-manik mote tapi gak laku karena mungkin trennya udah berubah dan mungkin kurang menarik juga kali yah. Terus kan emang gak pro jadi asal jepret langsung main upload aja. Namanya anak coba-coba dan gak laku tapi aku tetep gak nyerah. Tiap hari aja aku upload bodo amat mau laku atau nggak,” cerita Vivi.

Vivi harus melalui berbagai perjuangan. Mulai dari tidak laku hingga bisnisnya yang naik turun dikarenakan target pasarnya yang tak menentu. Setelah mencoba berbagai jenis usaha dengan melihat selera masyarakat kala itu, Vivi yang melihat peluang di bidang fashion memutuskan untuk membuat gelang handmade yang akhirnya laku dibeli oleh banyak orang.

Munculnya tren kalung choker saat itu menjadi awal kemajuan bisnis Vivi. Melihat potensi serta pasar yang memiliki permintaan yang tinggi pada kalung choker akhirnya membuat Vivi memutuskan untuk berjualan choker yang ia buat sendiri. Dengan harga murah dan kualitas yang bagus, brand Vileo semakin dikenal dan banyak mendapatkan pelanggan setia. Kini Vivi masih melanjutkan usahanya dan mengembangkan bisnisnya tersebut dengan berjualan produk-produk variasi lainnya.    

“Jadi mikir kerajinan tangan tapi yang fashion apa ya, akhirnya bikin gelang handmade dan lumayan laku tapi bikinnya setengah mati. Bikinnya bisa setengah jam dan rumit akhirnya mikir kapan untungnya eh trend deh kalung choker. Trus liat di kompetitor harganya mahal saat itu, akhirnya jual dengan harga 12 ribu,” ungkap Vivi.

baca juga: kisah inspiratif Achmad Zaky

Semenjak bisnisnya berkembang, Vivi harus bekerja sembari kuliah yang akhirnya membuatnya kewalahan. Ibu dan adiknya ikut membantunya kala itu dan kini Vivi sudah memiliki dua pegawai yang membantu bisnisnya tersebut. Vivi juga menyadari bahwa barang jualannya tersebut bisa saja tidak trend lagi dan ia akhirnya mulai berjualan barang-barang lainnya, seperti gelang handmade, anting, dan kalung pesta. Vivi pun bersyukur karena akhirnya usaha yang ia bangun semakin berkembang dan dikenal.

Pantang Menyerah dan Pesannya untuk Sesama Milenial
 

Vivi saat diundang menjadi narasumber di acara TV, Kick Andy
Vivi saat diundang menjadi narasumber di acara TV, Kick Andy
Sumber: instagram.com

Di tahun kedua ia berkuliah, Vivi dan keluarganya harus menghadapi cobaan yang terus berdatangan. Adik semata wayangnya mengidap Leukimia ketika ia berkuliah semester 2. Hal tersebut membuat Vivi memutuskan untuk menghentikan bisnisnya dan fokus membantu penyembuhan sang adik. Tak berhenti disitu, papanya juga terkena Stroke ketika Vivi masuk semester 4 dikarenakan kondisi ekonomi keluarganya yang tidak baik sehingga membuat ayahnya jatuh sakit. Ibunya juga didiagnosa mengidap Lupus di tahun terakhir perkuliahan. Kondisi tersebut akhirnya membuat Vivi menjadi tulang punggung keluarganya.

“Aku semester 1 udah mulai online. Pas semester 2 adik aku kena Leukimia jadi stop dulu onlinenya. Sekitar semester 3 aku coba-coba lagi. Eh pas semester 4 di ending-ending gitu si papa Stroke tapi pas itu gatau kenapa pintu rezeki kebuka gitu. Dari yang awalnya misalnya aku bisa jualan cuma 10 tiba-tiba bisa berlipat-lipat ganda pada saat papa aku jatuh sakit,” ujar gadis yang lulus kuliah 3,5 tahun ini.

Menjadi mahasiswa yang berprestasi serta pebisnis muda tentu bukanlah hal yang mudah bagi Vivi. Ia harus pandai membagi waktu dan mengutamakan prioritas utamanya agar segalanya berjalan lancar dan seimbang. Tak hanya sibuk dengan kuliah dan organisasi kampus, Vivi juga disibukkan dengan kegiatan tutor untuk junior kampusnya serta skripsi yang harus ia selesaikan kala itu. Meskipun begitu, Vivi tetap bertanggung jawab akan kewajibannya yang akhirnya membuat Vivi menjadi mahasiswa teladan yang lulus cepat dengan nilai yang sempurna.

“Waktu itu aku ngorbanin dua. Yang aku korbanin itu waktu jalan-jalan sama waktu tidur. Waktu itu aku kuliah ambil 24 sks. Kalau 24 sks kan full yah. Terus selain 24 sks aku itu HIMA juga. Aku Wakil Ketua HIMA di kampus. Jadi lumayan sibuk tuh. Sama aku jadi pengajar tutor. Terus aku ambil job juga di luar tiap Rabu sama Kamis itu aku nyanyi,” cerita Vivi.

“Jadi gitu aku manage waktunya kalau lagi kuliah full nih dari jam 7 pagi kan tuh, aku dari jam 4-5 pagi udah harus siap-siap. Jam 6 aku udah musti jalan. Jam 5 sore balik dari kampus. Pulang jam 7 ya udah musti siap-siap. Kalau lagi nyanyi aku siap-siap nyanyi. Kalau nggak aku siap-siap ngerjain dagangan. Dulu belum ada karyawan masih ngerjain semua sendiri terus baru ngerjain tugas,” lanjutnya.

Meskipun cobaan datang bertubi-tubi, Vivi tidak menyerah. Komitmennya pada apa yang ia jalani juga mempermudah jalannya dalam menyelesaikan segala hal. Dengan pengalaman yang ia miliki serta kerja keras yang ia lakukan selama ini, Vivi menganggap bahwa pendidikan merupakan aspek penting yang juga membentuk kehidupannya.

“Walaupun sekarang aku terjun ke bisnis, aku sama sekali nggak pernah menyesali kalau aku pernah merasakan perguruan tinggi. Soalnya disana kita ketemu temen-temen yang beda-beda. Jadi disitu pola perilaku kita, cara kita berkomunikasi, cara kita lebih memahami lingkungan sekitar kan juga kebentuk. Apalagi waktu itu pas kuliah aku masuk organisasi juga tau nih kalau bikin acara harus gimana dan segala macem,” ujarnya.

baca juga: kisah inspiratif William Tanuwijaya

Vivi memiliki pesan yang ingin ia sampaikan pada teman-teman generasi muda.

“Bisnis itu nggak pernah ada ujungnya. Jadi kalau misalnya kita berhenti, bisnis itu juga bisa berhenti. Kalau misalnya bisnis lagi turun, ya kita nggak boleh nyerah. Karena kita akan kalah kalau kita menyerah. Kebetulan karena bisnis aku di bidang seni, aku selalu bilang ke staff aku kalau desain itu nggak pernah ada yang salah. Seni itu nggak pernah ada yang salah. Jadi kita bebas berkreasi,” pesan Vivi.

“Dan menurutku pendidikan itu penting karena untuk kita yang beruntung bisa merasakan kuliah di perguruan tinggi jangan malas-malasan. Hargai kesempatan itu karena banyak banget di luar sana yang pengen punya kesempatan itu tapi nggak bisa,” tutupnya.


Rajin dan pekerja keras merupakan kunci yang membawa Vivi menuju kesuksesan, baik dalam hal pendidikan maupun berbisnis. Banyak hal yang dapat dipelajari dari pengalamannya dalam menghadapi hidup dan membangun bisnisnya. Tantangan memang akan selalu ada, tapi bagaimana cara kita menghadapinyalah yang akan menentukan kita di masa depan. Simak kisah inspiratif lainnya hanya di Kinibisa!